Pages

HMI Fispol Kecam Tindakan Malaysia

Minggu, 17 Januari 2010

Rabu, 2 September 2009 | 14:43 WIB

Yogyakarta, Kompas - Belasan mahasiswa anggota Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Selasa (1/9), berunjuk rasa menolak keberadaan mahasiswa asal Malaysia. Mereka juga mengecam tindakan Malaysia yang telah mengklaim budaya, wilayah Indonesia, dan melecehkan lagu Indonesia Raya.
Hal ini merupakan aksi kecaman kedua terhadap negara jiran itu dalam tiga hari terakhir di Yogyakarta. Sebelumnya, hari Minggu (30/8), sekitar 100 mahasiswa asal Bali menampilkan tari pendet di perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta. Aksi itu sebagai wujud penolakan klaim Malaysia terhadap tari pendet.

Unjuk rasa dimulai dari Fisipol dilanjutkan berjalan kaki ke Bundaran dan berakhir di pintu masuk Fakultas Kedokteran. Mereka tidak hanya berorasi, tapi juga melakukan aksi teatrikal. Sejumlah poster bernada kecaman, seperti Usir Mahasiswa Malaysia dari Kampus UGM, UGM Tolak Mahasiswa Malingsia, dan Selamatkan Budaya Bangsa mereka bentangkan.
Humas Aksi Yuri Ashari mengemukakan, saat ini ada sekitar 80 mahasiswa asal Malaysia yang belajar di UGM. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 orang di antaranya menuntut ilmu di Fakultas Kedokteran. "Ironisnya, mereka yang dikirim untuk belajar di UGM adalah para mahasiswa yang notabene tidak lolos kualifikasi di negeri asalnya. Kualitas mereka rendah," ujarnya.
Menurut Yuri, tidak ada gunanya mengajarkan pengetahuan kepada para mahasiswa asal Malaysia karena suatu saat nanti mereka akan membalas dengan perlakuan tidak menyenangkan. Padahal, biaya yang dikeluarkan kampus untuk keperluan akademis para mahasiswa itu cukup besar.
Padahal, lanjutnya, di satu pihak UGM telah dianggap sebagai simbol kebesaran intelektualitas bangsa Indonesia. Kampus ini melahirkan pemikir besar sesuai bidang masing-masing.
"Karena itu, tindakan konkret yang harus kita lakukan adalah memulangkan mahasiswa asal Malaysia. Apa gunanya kita mencerdaskan mereka yang bakal mencuri budaya negeri ini," kata Angga, anggota HMI lainnya. HMI Komisariat Fisipol sendiri membuka ruang kepada para mahasiswa asal Malaysia untuk mendiskusikan masalah ini. (WER)
Read more ...

Mahasiswa UGM Tolak Mahasiswa Malaysia

Minggu, 17 Januari 2010
Selasa, 01/09/2009 13:52 WIB
Bagus Kurniawan - detikNews

Yogyakarta - Puluhan anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar demo menolak mahasiswa Malaysia. Mereka meminta UGM tidak lagi menerima mahasiswa asal Malaysia.

Aksi itu diawali dari kampus Fisipol di Jl Justisia dilanjutkan berkeliling menuju kampus blok kesehatan (eksakta) tempat para mahasiswa asal Malaysia kuliah.

Namun saat menuju Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) untuk berdialog dengan mahasiswa asal Malaysia, pihak Satuan Keamanan Kampus (SKK) UGM tidak memperbolehkan pendemo masuk. Pintu gerbang utama FK UGM langsung ditutup rapat oleh SKK.

SKK beralasan aksi itu akan mengganggu perkuliahan. Karena tidak boleh masuk masa kemudian melanjutkan aksinya berkeliling kampus.

Dalam aksi itu juga diwarnai dengan pembakaran replika bendera Malaysia. Mereka juga meneriakkan yel-yel anti Malaysia dan ganyang Malaysia.

"Kami tidak akan melakukan sweeping terhadap mereka. Kami ingin ada dialog dengan mahasiswa UGM asal Malaysia,” kata Yuri Ashari di sela-sela aksi.

Yuri mengatakan pihaknya juga tidak akan mengusir atau men-sweeping mahasiswa asal Malaysia yang kebanyakan kuliah di FK UGM. Namun pihaknya ingin agar Rektorat UGM tidak menerima lagi mahasiswa asal Malaysia.

"Kami hanya ingin dialog dengan mereka mengenai berbagai masalah yang muncul akhir-akhir ini. Namun belum ada tanggapan dan tidak boleh masuk oleh satpam," katanya.

(bgs/djo)
Read more ...

HMI Fisipol Tolak Mahasiswa Asal Malaysia, Masuk UGM

Minggu, 17 Januari 2010
Sahabat MQ/ belasan mahasiswa yang tergabung dalam himpunan mahasiswa islam HMI komisariat fisipol UGM/ pagi tadi menggelar aksi protes atas ulah malaysia terhadap indonesia selama ini// Akhirnya/ HMI menuntut agar civitas akademika UGM mengusir/ dan tidak lagi menerima mahasiswa asal malaysia untuk masuk UGM// Koordianator aksi protes -Yuri azhari- menyatakan/ pihaknya akan berupaya/ untuk melakukan dialog pada mahasiswa UGM asal malaysia/ untuk menyampaikan tuntutan/ agar perwakilan Malaysia meminta maaf/ karena telah menginjak–injak harga diri bangsa dan tanah air indonesia// Reporter MQ FM -Tria Haidar- melaporkan/ pada kesempatan tersebut para mahasiswa juga melakukan pembakaran simbol bendera Malaysia/ dan aksi teatrikal yang menggambarkan pelecahan malaysia terhadap Indonesia// Selain itu/ HMI juga melakukan orasi dan membacakan pernyataan sikap/ di depan fakultas kedokteran UGM/ yang terdapat sekitar 50 mahasiswa asal Malaysia/// Tria Haidar

http://mqradio.com/?lang=ina&page=front&action=view&item=details&i=105&title=HMI%20Fisipol%20Tolak%20Mahasiswa%20Asal%20Malaysia,%20Masuk%20UGM

Read more ...

Mahasiswa UGM Tolak Mahasiswa Asal Malaysia

Minggu, 17 Januari 2010
Selasa, 01 September 2009 | 12:07 WIB

TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Belasan anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fisipol Universitas Gadjah Mada menggelar aksi unjuk rasa keliling kampus, Selasa (1/9). Mereka meminta kepada rektorat UGM untuk tidak lagi menerima mahasiswa asal Malaysia.

demoTidak hanya meminta tidak lagi menerima mahasiswa asal Malaysia, para pengunjuk rasa juga meminta agar mahasiswa asal Malaysia diusir dari kampus UGM. Aksi yang dimulai sekitar pukul 10.00 dari kampus Fisipol UGM ini juga diwarnai dengan pembakaran replika bendera Malaysia.

Sempat beredar isu para pengunjuk rasa akan melakukan aksi sweeping terhadap mahasiswa UGM asal Malaysia. Namun hal itu dibantah oleh Yuri Ashari, koordinator aksi. “Kami tidak akan melakukan sweeping. Kami justru akan melakukan dialog dengan mahasiswa UGM asal Malaysia,” katanya di sela-sela aksi.

Dialog dengan mahasiswa UGM asal Malaysia direncanakan berlangsung di kampus Fakultas Kedokteran. Di fakultas inilah sebagian besar mahasiswa asal Malaysia sedang menuntut ilmu. Namun, mereka gagal melakukan dialog karena pintu gerbang Fakultas Kedokteran buru-buru ditutup oleh satpam. Para demonstran akhirnya hanya menggelar aksi dan berorasi di luar pintu gerbang, sebelum mengakhiri aksinya.

HERU CN

Read more ...

Penolakan Terhadap Mahasiswa Malaysia Di Kampus UGM

Minggu, 17 Januari 2010
Senin, 28 September 2009 16:57

Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) Komisariat Fisipol UGM, menggelar aksi unjuk rasa di Bunderan Kampus UGM, Yogyakarta, siang tadi.

Dalam aksinya kali ini, diserukan penolakan terhadap keberadaan Mahasiswa Malaysia yang di Kampus UGM. Aksi ini muncul karena latar belakang tindakan negara Malaysia, yang dinilai telah menginjak-injak martabat bangsa Indonesia.

Aksi diawali dari kampus Fisipol UGM dengan pembubuhan tanda tangan mahasiswa, kemudian dilanjutkan dengan melakukan long march sampai Bunderan UGM untuk melakukan pembakaran bendera Malaysia.

Tidak sampai disitu saja, massa juga bergerak ke Kakultas Kedokteran Umum UGM, dimana di fakultas ini terdapat mahasiswa yang berkebangsaan Malaysia. Pengunjuk rasa tersebut juga meminta perwakilan mahasiswa Malaysia untuk meminta maaf atas tindakan bangsanya.

Dikatakan Yuri Ashari, koordinator aksi, pihaknya menuntut mahasiswa Malaysia meminta maaf, atas tindakan bangsanya yang telah menginjak-injak Indonesia. Hal paling konkrit yang bisa kita lakukan adalah memulangkan mahasiswa Malaysia dari kampus UGM dan menolaknya masuk UGM.

Selain itu, mereka juga menyerukan kepada pemerintah Indonesia agar tak menjadikan alasan tetangga dekat untuk bisa membiarkan bangsa lain menjatuhkan martabat Indonesia.

http://rripro2jogja.com/id/insert/news-update/89-penolakan-terhadap-mahasiswa-malaysia-di-kampus-ugm.html
Read more ...

Mahasiswa Fisipol UGM Bakar Bendera Malaysia

Minggu, 17 Januari 2010
Selasa, 1 September 2009, 12:08 WIB

Joko Widiyarso - GudegNet


Kesal dengan sejumlah ulah yang dilakukan Malaysia, puluhan mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fisopol UGM, Selasa (1/9) menggelar unjuk rasa dengan membakar bendera Malaysia di Bunderan UGM Yogyakarta.

Selain aksi pembakaran bendera Malaysia, massa yang sebelumnya telah melakukan aksi di kampus mereka di Fakultas Fisipol UGM ini mengecam keras perilaku Malaysia yang terlalu sering mengklaim apa yang dipunyai Indonesia.

"Lagu kebangsaan saja nyontek. Belum lagi batik, reog Ponorogo, dan terakhir tari pendet asli Bali dicuri pula," teriak orator aksi, Angga.

Terkait dengan ulah tak menyenangkan Malaysia, massa bahkan menuntut pihak kampus UGM untuk tidak lagi menerima mahasiswa asal Malaysia untuk belajar di kampus mereka.

"Kami menuntuk agar kampus tidak lagi menerima mahasiswa asal Malaysia. Kalau perlu, pulangkan saja mereka ke kampung halamannya," tegas koordinator aksi Yuri Ashari.

Melalui aksi ini, Yuri mengharapkan agar pemerintah Malaysia turut por aktif dalam menyelesaikan segala pelecehan yang terjadi oleh warga negara mereka, bukan hanya membiarkannya saja.

"Pemerintah Malaysia harusnya minta maaf soal terjadinya pelecehan lagu kebangsaan 'Indonesia Raya' yang baru-baru saja terjadi di sebuah web," tuntunya.

Selain itu, massa juga menuntut agar pihak pemerintah Indonesia agar lebih berani dan tegas terkait dengan penistaan yang sering dilakukan oleh Malaysia. Menurut mereka, harga diri bangsa harus dipertahankan.

Dalam aksi tersebut, massa membawa sejumlah poster yang bertuliskan 'Malaysia Truly Malingya Asia', 'UGM Stop Stop Menerima Mahasiswa Asing', 'Waspada Klaim Malingsia', 'Ayo Selamatkan Budaya Bangsa', 'Tari Pendet Jelas dari Bali' 'Malaysia Plagiat Budaya', dll.

Usai menggelar aksi di Fakultas Fisipol dan Bunderan UGM, massa melanjutkan aksi ke Fakultas Kedokteran Umum UGM guna meminta perwakilan mahasiswa Malaysia untuk meminta maaf atas tindakan bangsanya yang sering melecehkan bangsa Indonesia.
Read more ...

Mahasiswa UGM: "Usir Mahasiswa Asal Malaysia!"

Minggu, 17 Januari 2010
Selasa, 01 September 2009 | 12:08 WIB

TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Belasan anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fisipol UGM menggelar aksi unjuk rasa keliling kampus, Selasa (1/9). Selain menolak mahasiswa asal Malaysia, mereka meminta Rektorat mengusir mahasiswa Malaysia.

Aksi yang dimulai sekitar pukul 10.00 dari kampus Fisipol UGM ini juga diwarnai dengan pembakaran replika bendera Malaysia.

Sempat beredar isu para pengunjuk rasa akan melakukan aksi sweeping terhadap mahasiswa UGM asal Malaysia. Namun hal itu dibantah oleh Yuri Ashari, koordinator aksi. “Kami tidak akan melakukan sweeping. Kami justru akan melakukan dialog dengan mahasiswa UGM asal Malaysia,” katanya.

Dialog dengan mahasiswa UGM asal Malaysia direncanakan berlangsung di kampus Fakultas Kedokteran. Di fakultas inilah sebagian besar mahasiswa asal Malaysia sedang menuntut ilmu. Namun, mereka gagal melakukan dialog karena pintu gerbang Fakultas Kedokteran buru-buru ditutup oleh satpam. Para demonstran akhirnya hanya menggela aksi dan berorasi di luar pintu gerbang, sebelum mengakhiri aksinya.

HERU CN

Read more ...

Gelar Unjuk Rasa Keliling Kampus, Mahasiswa UGM Tolak Mahasiswa Malaysia

Minggu, 17 Januari 2010
SOFAN KURNIAWAN/ BERNAS JOGJA
TOLAK MAHASISWA MALAYSIA-- Mahasiswa UGM saat menggelar unjuk rasa menolak mahasiswa asal Malaysia di kampus setempat, bundaran UGM dengan pembakaran replika bendera Malaysia.

Rabu, 2 Sep 2009 10:19:09

JOGJA ‑‑ Belasan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fisipol UGM menggelar unjuk rasa menolak mahasiswa asal Malaysia di kampus setempat, Selasa (1/9). Aksi diawali keliling kampus dan berakhir di bundaran UGM dengan pembakaran replika bendera Malaysia.
Dalam tuntutannya, mahasiswa menuntut pihak rektorat UGM untuk tidak lagi menerima mahasiswa asal negeri jiran itu. Mereka juga meminta mahasiswa Malaysia diusir dari UGM.
Selain pada rektorat, mahasiswa juga berupaya melakukan dialog dengan mahasiswa asal Malaysia di fakultas kedokteran UGM. Sebab di fakutlas itulah banyak mahasiswa Malaysia yang tengah melanjutkan pendidikan kesarjanaan maupun magister mereka.
Namun dialog bersama itu gagal dilakukan. Pasalnya, ketika mahasiswa sampai di FK UGM, pintu gerbang fakultas itu langsung ditutup oleh Satuan Keamanan Kampus (SKK). "Kami menuntut mahasiswa Malaysia meminta maaf atas tindakan bangsanya yang telah menginjak‑injak Indonesia," ujar koordinator aksi Yuri A di sela‑sela aksi.
Demonstran beranggapan, sia‑sia saja UGM mendidik calon pencuri budaya Indonesia. Mereka nantinya hanya akan semakin banyak memberikan kerugian bagi bangsa ini.
Hal ini ditunjukkan dengan makin banyaknya klaim yang dilakukan Malaysia terhadap kekayaan Indonesia. Sementara tidak ada tindakan tegas yang dilakukan pemerintah hingga saat ini. Karenanya UGM sebagai kampus kebangsaan harus mampu menunjukkan perannya. Kampus tersebut mestinya bisa membuat kebijakan untuk tidak lagi menerima mahasiswa asal Malaysia seperti yang dilakukan sejumlah kampus lainnya. "Rektor UGM seharusnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak menerima mahasiswa Malaysia di kampus UGM," ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Kantor Urusan Internasional UGM Rachmat Sriwijaya mengungkapkan, fakultas itu tetap melakukan kerjasama dengan Malaysia. Sebab belum ada aturan dari kampus untuk menolak mahasiswa asal Malaysia untuk berkuliah di kampus itu.
Selain itu, jumlah mahasiswa Malaysia yang berkuliah di FK UGM setiap tahunnya juga cukup banyak mencapai 70 orang. Mereka masuk lewat jalur seleksi internasional maupun jalur lainnya. "Jumlah mahasiswa asal Malaysia yang berkuliah di program internasional ini bahkan mendominasi dibandingkan dari negara lain," jelasnya. (ptu)
Read more ...

Demo warnai Hardiknas di Jogja

Minggu, 17 Januari 2010
Minggu, 03 Mei 2009 10:32:18
JOGJA:
Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Jogja, diwarnai dengan sejumlah kegiatan. Selain upacara bendera, aksi demo juga menyemarakkan Hardiknas, Sabtu (2/5).

Upacara bendera peringatan Hardiknas, salah satunya digelar di Lapangan Tamansiswa. Upacara diikuti oleh sekitar 400 siswa dari TK, SD, SMP, SMA, STM yang berada dibawah Yayasan Perguruan Tamansiswa dan mahasiswa dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), dan juga pengurus dari Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.

Upacara dipimpin Ketua II Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa Ki Prof Subronto Prodjoharjono yang menggantikan Tyasno Sudarto yang berhalangan hadir. Dalam sambutannya, dia mengatakan Hari Pendidikan Nasional diperingati bertepatan dengan kelahiran KI Hajar Dewantara (KHD), yang juga pendiri Perguruan Tamansiswa. Sehingga, dalam sistem pendidikan yang berjalan bisa merealisasikan konsep-konsep itu yakni konsep Tri Hayu dari KHD.

“Konsep tri hayu itu mencakup 3 hal yakni Hamemayu hayuning sariro, Hamemayu hayuning bongso, dan Hamemayu hayuning bawono, menjadi penting untuk membentuk karakter manusia,” ujarnya.

Hamemayu hayuning sariro memiliki makna membentuk kepribadian siswa yang cerdas, bermoral dan merdeka lahir batin. Lalu, Hamemayu hayuning bongso yakni rela berbakti demi bangsa dan negara. Ketiga, Hamemayu hayuning bawono bisa memelihara hubungan universal yang harmonis dengan alam dan bangsa di dunia.

“Ketiganya perlu diterapkan dalam kehidupan berbangsa, agar sistem pendidikan nasional berjalan sesuai dengan harapan warga masyarakat,” katanya

Setelah melakukan upacara bendera, juga dilakukan upacara ziarah di Pemakaman Wijaya Brata, Celeban, Umbulharjo. Dijelaskan Ki Bambang Widodo, ketua panitia acara ini diadakan setiap tahun, yang diawali dengan Hari Bakti Tamansiswa yang jatuh pada 26 April, yang bertepatan dengan wafatnya Ki Hajar Dewantara. Diisi dengan kegiatan kerja bakti, ziarah ke makam Wijaya Brata dan tahlilan.

“Upacara ziarah ini untuk menghormati para tokoh nasional yang pernah menjabat sebagai menteri pendidikan dan tokoh pendidikan Indonesia yang dimakamkan di sini,” kata Ketua Bidang kekeluargaan Yayasan Majelis Luhur Tamansiswa ini.

Sebagai inspektur upacara ziarah adalah Tri Harjun Ismaji, upacara diikuti oleh 7 peleton, yakni perwakilan dari Satpol PP, Dinas Pendidikan DIY, siswa-siswi dari Yayasan Tamansiswa, Korem, Korsik dan Korem 072 serta Korps Musik.

Demo
Peringatan Hardiknas juga diwarnai dengan aksi demo. Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aksi peduli pendidikan melakukan unjuk rasa menuntut dilakukannya reorientasi pendidikan nasional dan mewujudkan parlemen dan pemerintah peduli pendidikan, Sabtu (2/5).

Aksi yang digelar bertepatan dengan hari pendidikan nasional yang jatuh pada 2 Mei tiap tahunnya itu, diikuti oleh sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan organisasi lintas kampus dari sejumlah Universitas di DIY. Aksi diwarnai dengan berjalan kaki dari DPRD DIY menuju Titik Nol Kilometer di depan kantor Pos Jogja.

Dalam aksinya, sejumlah mahasiswa menolak pemberlakuan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan, menolak Ujian Akhir Nasional (UAN) dijadikan paramater tunggal kelulusan, dan menolak penelikungan anggaran 20% pendidikan dengan memasukkan unsur gaji guru ke dalamnya.

“Dalam UU BHP, ada 27 pasal bermasalah. UU itu harus dicabut. Kita juga sudah ditipu dengan anggaran pendidikan 20% yang memasukkan unsur gaji guru ke dalamnya,” seru Pidi Winata Presiden Mahasiswa BEM Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) saat menggelar aksi di gedung DPRD.

Pidi mengatakan, dengan pemberlakuan UU BHP, komersialisasi pendidikan tidak bisa dihindari. Akibatnya, biaya pendidikan akan semakin membengkak dan menimbulkan kesenjangan kelas antara masyarakat miskin dan kaya.

Menurut kajian dari BEM KM UGM, UU BHP bahkan merupakan proyek pesanan asing. Hal itu dibuktikan dengan adanya proyek World Bank yang merekomendasikan UU BHP disahkan sebelum 2010. “Ini jelas UU pesanan asing. Dampaknya sudah terasa di UGM yang dulu dikenal kampus rakyat, kini jadi kampus elit berduit,” kata Presiden BEM UGM Qadaruddin.

Oleh karenanya, aksi yang digelar tepat di Hari Pendidikan Nasional itu juga hendak menyuarakan kepada DPRD Provinsi DIY agar turut mendukung terciptanya parlemen peduli pendidikan. “Segala dampak adanya kebijakan tentang pendidikan, selalu melewati pintu parlemen. Lembaga ini diharapkan turut mengawal cita-cita nasional pendidikan bagi seluruh warga Indonesia,” ujarnya.

Sejumlah peserta unjuk rasa dari Himpunan Mahasiswa Islam (MHI) nampak menggelar aksi bertelanjang dada bertuliskan cabut “UU BHP”. Ihsan Ahmad Barokah HMI Komsat Fisipol Bulaksumur Sleman menuturkan, aksi itu sebagai bentuk simbolisasi penolakan UU BHP yang sudah menjadi jeritan hati nurani mahasiswa. (Theresia T. Andayani & Nugroho Nurcahyo)
Read more ...

Ratusan Mahasiswa Yogya Tolak UU BHP

Minggu, 17 Januari 2010
Aksi Hari Pendidikn Nasional 2 Mei 2009

Peringatan Hari Pendidikan Nasional, Sabtu (2/5) di Yogyakarta, diwarnai aksi penolakan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan oleh ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Mahasiswa menganggap UU BHP benar-benar telah menyebabkan diskriminasi bagi anak bangsa.

Para mahasiswa berunjuk rasa di depan Gedung Agung dan perempatan Kantor Pos Besar Yogya. Mereka terbagi dalam empat kelompok kecil, yakni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Ar Fakhruddin Kota Yogyakarta, Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa (KBM UST), Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), dan Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fisipol Cabang Bulak Sumur.

Melki, Koordinator KBM Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa, mengatakan, pendidikan yang berorientasi bisnis telah mencederai undang-undang yang mengamanatkan pendidikan adil bagi seluruh rakyat. "Fenomena kampus berkualitas dan meng-integrasional, yang marak dewasa ini, sejatinya omong kosong. Secara tidak langsung, sistem pendidikan yang ada menghambat laju kecerdasan generasi muda," ujarnya.

Menurut KBM UST, pendidikan berkualitas hanya sebuah slogan untuk melegalkan biaya yang mahal. Banyaknya masyarakat yang ingin sekolah di luar negeri, sebenarnya menjadi bukti bahwa pendidikan di dalam negeri memiliki mutu yang rendah.

Koordinator Umum BEM SI Pidi Winata mengatakan, ada 27 pasal bermasalah dalam UU BHP yang disahkan 17 Desember 2008 lalu itu. Dipastikan, komersialisasi pendidikan takkan terhindarkan apabila keberadaan UU tersebut terus dilanjutkan.

"Pendidikan dengan biaya tinggi pun telah menjadi keniscayaan. Karena itu tolak UU BHP. UU tersebut menyebabkan diskriminasi bagi masyarakat miskin untuk menikmati pendidikan. Otonomi perguruan tinggi dinilai gagal," ujarnya.

Pendapat senada dilontarkan Deriana, Koordinator IMM Ar Fakruddin. Menurut Fakhruddin, dunia pendidikan tidak lagi mampu membangun mental dan moral bangsa. Ironisnya lagi, program pendidikan gratis dan anggaran 20 persen untuk pendidikan, justru menjadi alat politik untuk menggalang simpati masyarakat.

Realisasi pendidikan gratis pun mengalami berbagai ketimpangan. Masih ada sekolah yang diperbolehkan menerima sumbangan dari berbagai pihak, dengan embel-embel bukan pungutan liar. "Pemerintah sepertinya terjebak dalam logika bahasa tanpa memilikirkan realitas yang ada di masyarakat," katanya.

Laporan wartawan KOMPAS Defri Werdiono
Read more ...

Aksi Hardiknas, Mahasiswa Tolak UU BHP

Minggu, 17 Januari 2010
YOGYA (KR) - Saat di halaman Balairung digelar ucapara memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diikuti sivitas akademika UGM, Sabtu (2/5), di Bunderan UGM ratusan mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menggelar aksi turun ke jalan dari UGM ke Kantor Pos Besar. Mereka menolak Undang-Undang (UU) Badan Hukum Pendidikan (BHP).

Aksi mahasiswa kali ini mengangkat tema ‘Re-Orientasi Pendidikan Nasional serta Wujudkan Parlemen dan Pemerintah Peduli Pendidikan’. Penolakan terhadap UU BHP juga dilakukan KBM-Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Yogya, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fisipol UGM, maupun Komite Rakyat Bersatu (KRB).
Seluruh aksi yang diikuti lebih dari 200 orang berbeda elemen itu berangkat dari tempat berbeda, tetapi seluruhnya diakhiri di simpang empat titik nol kilometer Kota Yogya. Yang menarik, meskipun ada tuntutan yang sama, elemen-elemen itu ada yang tidak mau bergabung sama lain. Bila satu elemen meninggalkan tempat, giliran elemen lain menggantikannya.
Selain meneriakkan tuntutan-tuntutan termasuk keinginan dicabutnya UU BHP, memang ada yang tampil unik. HMI Komisariat Fisipol UGM misalnya dengan beberapa orang tanpa baju masing-masing bertuliskan satu huruf yang membentuk tulisan CABUT BHP!. Mereka berjalan kaki menuju simpang empat titik nol kilometer.
Sementara IMM Kota Yogya menampilkan seorang dengan wajah putih melakukan gerakan ala pantomim. BEM SI menolak UU BHP dan mendesak agar sistem penentu kelulusan pendidikan yang menjadikan ujian nasional sebagai salah satu parameternya dievaluasi. Menuntut direalisasikan pendidikan terjangkau bagi rakyat sebagai amanat Tugu Rakyat.
“Kami mahasiswa yang bergabung dalam BEM SI menolak tegas penelikungan anggaran 20 persen pendidikan dan menolak gaji dosen dimasukkan dalam anggaran 20 persen itu artinya sama saja bohong dan omong kosong,” ujar Koordinator Bidang Pendidikan BEM Seluruh Indonesia Pidi Winata yang juga Presiden Mahasiswa BEM Rema UNY.
Selain menggelar berbagai poster, spanduk para aktivis yang mengenakan jaket almamater masing-masing juga melakukan orasi secara bergantian. Pada intinya para mahasiswa ini dengan tegas menolak UU BHP yang disahkan 17 Desember 2008 dinilai oleh BEM SI telah menuai kontroversi baru. Ada 27 pasal bermasalah, ini merupakan hasil dari konferensi BEM SI di Yogyakarta.
Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa (MLPT) Tyasno Sudarto dalam sambutan Hardiknas di lapangan Tempel-Wirogunan mengatakan, seiring dengan kemajuan zaman telah tumbuh perguruan swasta dan sekolah negeri. Kebijakan pemerintah yang semula berkiblat kepada konsep Ki Hadjar Dewantara (KHD), namun seiring kemajuan pendidikan global aplikasinya banyak bergeser dari ajaran KHD.
Pendidikan sekolah sudah mengarah kepada pendidikan intelek dan kurang memberi bobot kepada pendidikan watak putra bangsa. “Kompetisinya antarindividu siswa, antarsekolah membawa siswa dan pamong secara maksimal memberi jam pelajaran sampai sore, bahkan malam hari,” ucapnya di depan para siswa dan pamong Tamansiswa.
Dikatakan Tyasno, KHD memberikan pengertian, pendidikan tidak melulu intelektual tidak bermanfaat bagi bangsa karena akan menjauhkan kaum terpelajar dari rakyat. “Tamansiswa wajib menyebarluaskan pendidikan kepada segenap masyarakat secara merata karena itu sangat bermanfaat bagi kemajuan bangsa,” tandasnya. (Asp/Jay/Ewp/Her)

Read more ...