Yogyakarta, Kompas - Belasan mahasiswa anggota Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Selasa (1/9), berunjuk rasa menolak keberadaan mahasiswa asal Malaysia. Mereka juga mengecam tindakan Malaysia yang telah mengklaim budaya, wilayah Indonesia, dan melecehkan lagu Indonesia Raya.
Hal ini merupakan aksi kecaman kedua terhadap negara jiran itu dalam tiga hari terakhir di Yogyakarta. Sebelumnya, hari Minggu (30/8), sekitar 100 mahasiswa asal Bali menampilkan tari pendet di perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta. Aksi itu sebagai wujud penolakan klaim Malaysia terhadap tari pendet.
Humas Aksi Yuri Ashari mengemukakan, saat ini ada sekitar 80 mahasiswa asal Malaysia yang belajar di UGM. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 orang di antaranya menuntut ilmu di Fakultas Kedokteran. "Ironisnya, mereka yang dikirim untuk belajar di UGM adalah para mahasiswa yang notabene tidak lolos kualifikasi di negeri asalnya. Kualitas mereka rendah," ujarnya.
Menurut Yuri, tidak ada gunanya mengajarkan pengetahuan kepada para mahasiswa asal Malaysia karena suatu saat nanti mereka akan membalas dengan perlakuan tidak menyenangkan. Padahal, biaya yang dikeluarkan kampus untuk keperluan akademis para mahasiswa itu cukup besar.
Padahal, lanjutnya, di satu pihak UGM telah dianggap sebagai simbol kebesaran intelektualitas bangsa Indonesia. Kampus ini melahirkan pemikir besar sesuai bidang masing-masing.
"Karena itu, tindakan konkret yang harus kita lakukan adalah memulangkan mahasiswa asal Malaysia. Apa gunanya kita mencerdaskan mereka yang bakal mencuri budaya negeri ini," kata Angga, anggota HMI lainnya. HMI Komisariat Fisipol sendiri membuka ruang kepada para mahasiswa asal Malaysia untuk mendiskusikan masalah ini. (WER)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar