Pages

HMI beraksi di Mapoltabes Jogja

Rabu, 10 Maret 2010

Minggu, 07 Maret 2010 09:21:49
2010030792149_hmi.jpg
JOGJA: Puluhan mahasiswa dari HMI Cabang Jogja Sabtu (5/3) siang kembali menggelar aksi demonstrasi di depan Mapoltabes Jogja, memprotes tindak kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian terhadap mahasiswa HMI di Makassar. Aksi yang dikoordinatori oleh Taufi q Saifuddin itu diawali dengan long march dari Bunderan UGM, terus ke arah Tugu dan masuk ke Jalan Malioboro. 

Dalam pernyataan pers-nya, HMI Cabang Jogja mengatakan, apapun alasannya polisi tidak dibenarkan melakukan penyerangan dan pemukulan terhadap masyarakat. Kewajiban polisi adalah mengayomi masyarakat. Sampai di depan Mapoltabes Jogja, puluhan polisi sudah siaga dengan menutup gerbang Mapoltabes, sehingga mahasiswa HMI tidak bisa masuk dan hanya berorasi di depan Mapoltabes. 

Wahyu Minarno, Ketua Cabang HMI Jogja dalam pernyataannya mengatakan bahwa kejadian di Makassar sebenarnya adalah sebuah rekayasa politik untuk mengkriminalisasikan gerakan mahasiswa. Polisi telah dijadikan oleh rezim sebaga alat untuk menindas masyarakat. 

“Seharusnya ada solusi yang bijak untuk meredam aksi-aksi teman-teman di Makassar yang terkenal keras, bukan dengan cara kekerasan,” imbuh Ichsan Ahmad Barokah, dari Komisariat HMI Fisipol UGM. Ia melanjutkan, HMI siap melakukan aksi yang lebih besar lagi jika tuntutan mereka tidak diindahkan. 

Soal Century 
Selain melakukan aksi solidaritas terhadap teman-teman mereka di Makassar, para demonstran pun menuntut pengalihan kasus Century dari mekanisme politik menuju mekanisme hukum, meminta KPK segera mengambilalih proses hukumnya, mereformasi kebijakan perbankan nasional, mendesak presiden untuk tidak bertele-tele dalam mengambil keputusan atas pelanggaran korupsi, meminta Budiono dan Sri Mulyani mundur dari jabatannya, serta mengajak masyarakat untuk terus mengawal proses hukum Century. 

Setelah berorasi, para demonstran kemudian menyerahkan sepucuk surat raksasa yang berisi “Saran, usulan dan tak lupa peringatan bagi Kepolisian Republik Indonesia, yang semakin tak bersahabat dengan masyarakat”, dan diterima oleh Ipda Legowo, mewakili pihak kepolisian. 

Setelah menyerahkan surat raksasa tersebut, peserta aksi melanjutkan long march ke perempatan Kantor Pos Besar, membentuk lingkaran dan berorasi, serta membakar ban bekas sebagai bentuk simbolik memusnahkan virus bangsa, serta diakhiri dengan melakukan salat ghaib bersama. 

Jangan jadi musuh Menanggapi demo mahasiswa di Makassar sosiolog Imam B Prasodjo mengatakan mahasiswa, jangan sampai justru menjadi musuh rakyat. Pasalnya, dengan mengatasnamakan suara rakyat, mereka justru lebih banyak merusak fasilitas umum. 

“Yang sedang terancam, komunitas akademis di Makassar,” tandasnya, seperti dikutip detikcom, kemarin. Imam menambahkan perlu ada reposisi kepemimpinan di tubuh ormas dan organisasi kemahasiswaan di Makassar untuk mengakhiri situasi tersebut. 

“Mahasiswa harus segera mereposisi kepemimpinan yang didukung oleh tokoh-tokoh di Makassar,” ujarnya. Mulai dari Jusuf Kalla, Andi Mallarangeng serta beberapa tokoh nasional yang berasal dari Makassar, diharap mau untuk mendorong reposisi tersebut. 

Hal ini dirasa sangat perlu karena selama ini Makassar cenderung lebih dikenal dengan aksi yang berujung tindak kekerasan. “Saya khawatir mahasiswa di situ [Makassar] akan lebih dikenal dengan unjuk rasa dengan kekerasan dibanding aktivitas akademiknya,” jelasnya.(MG Noviarizal Fernandez)
Read more ...

Tuntut Polisi, HMI Bakar Ban di Yogyakarta

Senin, 08 Maret 2010
Sabtu, 06 Maret 2010 14:59:00




Massa HMI saat membakar ban di perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta. (Foto : Rani Dwi Lestari)






YOGYA (KRjogja.com) - Aksi massa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Yogyakarta sebagai bentuk rasa solidaritas atas insiden penyerangan HMI di Makassar berlanjut. Setelah sebelumnya sempat ricuh di gedung DPRD DIY, demonstran melanjutkan aksinya ke Poltabes Yogyakarta, Sabtu (6/3).



Di temapat ini, massa HMI cabang Yogyakarta bergabung dengan massa HMI cabang komisariat FISIPOL UGM yang sebelumnya telah berada di lokasi. Puluhan massa membawa sepucuk surat raksasa yang ditujukan pada jajaran Polri yang peringatan bagi Kepolisian yang dinilai represif kepada masyarakat. Surat tersebut akhirnya diterima oleh Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Poltabes Yogyakarta, Ipda Legowo.



Ketua HMI Yogyakarta, Wahyu Minarno mengungkapkan, apapun alasannya, tidak dibenarkan Polisi melakukan tindakan penyerangan dan pemukulan terhadap masyarakat. "Kepolisian seharusnya dapat mencari solusi terbaik atas gejolak yang terjadi di masyarakat dan menyelesaikannya secara profesional tanpa kekerasan fisik. Harus disadari bahwa polisi adalah bagian dari masyarakat," tegasnya.



Setelah melakukan orasi beberapa saat, massa gabungan HMI tersebut pada awalnya akan melakukan aksi bakar ban ditempat. Namun hal tersebut urung dilakukan dan dilanjutkan longmarch menuju perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta. Di sana, massa yang semakin memanas akhirnya melakukan aksi bakar ban dan membentuk lingkaran besar.



Ulah massa tersebut sempat menimbulkan kemacetan lalu-lintas. Akan tetapi tidak ada satupun pihak Kepolisian yang berusaha menghentikan pembakaran ban tersebut. Selain melakukan aksi solidaritas terhadap HMI Makassar, tuntutan yang massa usung tetap sama, yakni penuntasan kasus benk Century menuju mekanisme hukum serta kutukan terhadap aksi kekerasan pihak Kepolisian kepada mahasiswa.



"Kami juga menegaskan kembali agar terjadinya aksi kekerasan pihak Kepolisian kepada mahasiswa jangan sampai dijadikan alat untuk mengalihkan isu bank Century. Kami akan terus melakukan aksi dan pengawalan agar kasus tersebut bisa cepat tuntas," tandasnya. (Ran)
Read more ...

Bentrok di Cikini, Setelah Adu Jotos, Polisi dan Massa HMI Mundur

Senin, 08 Maret 2010
Posted in Berita Utama by Redaksi on Maret 7th, 2010

BAKAR BAN: Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Yogyakarta melakukan aksi dengan membakar ban di depan Kantor Pos Besar, Yogyakarta, Sabtu (6/3). Aksi HMI Yogyakarta tersebut sebagai bentuk solidaritas terkait insiden bentrokan yang terjadi antara mahasiswa dan Polisi di Makasar dan Jakarta. (Foto Ant/Wahyu Putro A)




Jakarta (SIB)

Selain di Makassar, massa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) juga bentrok dengan polisi di Jakarta.Mereka bentrok di Cikini, Jakarta Pusat. Hingga pukul 20.30 WIB, suasana masih tegang.

Pantuan detikcom, Jumat (5/3) massa HMI yang berjumlah sekitar 50 orang melakukan aksinya tepat di depan rumah makan cepat saji, KFC, Jl Cikini Raya. Beberapa di antara mereka ada yang sengaja memblokade jalan Cikini.

Tak ingin menimbulkan kemacetan lalu lintas, polisi akhirnya mengejar massa HMI sehingga lari terbirit-birit ke samping KFC. Namun massa HMI terus melempari polisi dan warga di sekitar lokasi dengan batu.

Massa sempat melakukan aksi bakar bendera di tengah jalan. Namun, aparat kepolisian sigap memadamkan api itu.

Hingga saat ini situasi masih berlangsung tegang. Pengelola restoran KFC juga kembali tidak membuka gerainya. Namun situasi lalu lintas di Cikini berjalan normal.

Setelah Adu Jotos, Polisi dan Massa HMI Mundur

Setelah sempat saling bertukar pukulan, massa HMI dan aparat kepolisian sama-sama mundur dari posisi awal. Bentrokan yang terjadi di antara mereka pecah akibat provokasi massa HMI lakukan.

Bentrokan pecah sekitar pukul 20.30 WIB, Jumat (5/3). Berdasarkan pantauan detikcom di lokasi kejadian, aparat kepolisian mundur sekitar 50 meter dari barikade tameng. Sedangkan massa HMI saat ini masih terus bertahan di Jl Cilosari, Jakarta.

Sebelum bentrokan pecah, dari arah massa HMI terlontar kata-kata kotor yang ditujukan kepada polisi. Massa HMI lalu mendorong barisan polisi agar mundur dan seketika itu kedua kelompok bertukar pukulan.

Tidak lama kemudian massa HMI menghentikan aksi dorong itu. “Kami akan mundur kalo polisi juga mundur!” seru salah seorang di antara mereka.

Menanggapi itu barisan polisi pun mundur. Tetapi barikade tameng tidak dibongkar. Beberapa saat kemudian terlihat personil polisi tambahan tiba di lokasi.

Hingga saat suasana masih terasa tegang. Pertigaan antara Jl Cikini Raya dengan Jl Cilosari yang biasanya ramai dengan gerobak penjual makanan, kini tampak sepi karena para pedagang memilih mengemasi dagangannya agar terhindar dari lemparan batu dan kerusakan lain yang mungkin timbul.

Sedangkan arus lalu lintas dari arah Taman Ismail Marzuki ke arah Menteng dan Salemba mulai mengalir. Meski demikian masih tersendat akibat kerumunan warga yang menonton kejadian bentrokan itu.

5 Anggota HMI Luka Akibat Bentrokan

Lima anggota HMI mengalami luka akibat bentrokan dengan polisi tadi malam. Para korban luka ini sudah mendapatkan perawatan di RS Cipto Mangunkusumo yang berada tidak jauh dari lokasi bentrokan di Cikini.

“Saat aksi kemarin ada 5 teman kita tang terluka,” kata Kordinator Aksi HMI, Agus Harta, di Sekertariat PB HMI, Jl. Cikosari, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (6/3).

Salah seorang yang mengalami luka itu adalah Dede (23). Mata sebelesah kiri aktifis ini terlihat memar. “Saya luka karena dipukul dan diinjak, ada juga teman yang dilindas dengan sepeda motor,” ujar Dede.

Lebih lanjut Dede menyatakan, dia dan empat temannya sudah memintakan visum ke RSCM. Hasil visum itu yang akan HMI pakai untuk mengambil langkah hukum terhadap bentrokan menyusul aksi unjuk rasa yang mereka tujukan sebagai solidaritas terhadap rekan-rekannya di Makassar.

“Kita harapkan ada upaya hukum dari kepolisian,” sambungnya.

Mahasiswa & Polisi Saling Dorong di Mabes Polri, M Ali Diamankan

Aksi unjuk rasa ratusan orang dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Mabes Polri memanas. Mahasiswa dan polisi saling dorong. Seorang mahasiswa, M Ali, kepergok melempar batu ke arah polisi dan diamankan.

Gesekan ini terjadi di depan Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (5/3) pukul 16.30 WIB.

Saat aksi saling dorong antara ratusan dan aparat kepolisian, 1 mahasiswa tertangkap tangan melempari polisi dengan batu. Mahasiswa yang berada di barisan depan itu langsung dibekuk. Ia sempat melawan. 6 Polisi pun menggotong si mahasiswa dan dibawa masuk ke Gedung Bareskrim, Mabes Polri. Mahasiswa lainnya tampak emosi melihat temannya diamankan.

“Bebaskan teman kami. Kalau 5 menit tidak dibebaskan kami akan melakukan tindakan-tindakan. Polisi jahat,” teriak mahasiswa yang terus melontarkan caci maki sambil saling dorong.

Aksi mendorong berlangsung sekitar 15 menit. Selanjutnya, 3 perwakilan mahasiswa akhirnya bernegosiasi dengan polisi. Polisi membebaskan mahasiswa itu yang diketahui bernama M Ali, 10 menit kemudian.

“Nggak-nggak (lempar batu) kok,” kata M Ali sambil lari ke arah luar.

Massa HMI yang menuntut Kapolda Sulselbar Irjen Pol Adang Rochyana dicopot ini kemudian membubarkan diri. Arus lalu lintas sempat tersendat di sepanjang Jalan Trunojoyo menuju Jalan Tendean, Jakarta Selatan.

Ketegangan Mereda, Akbar Tandjung Temui Massa HMI

Ketegangan di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat mereda setelah terjadi negosiasi antara massa HMI dengan polisi. Beberapa menit kemudian, tokoh senior HMI yang merupakan politisi Partai Golkar, Akbar Tandjung, menemui massa HMI yang berdemo.

Akbar Tandjung yang mengenakan jaket cokelat tiba di lokasi demo sekitar pukul 20.50 WIB, Jumat (5/3). Akbar didampingi sejumlah orang menemui massa HMI.

Sementara itu, sebagian besar aparat kepolisian sudah menarik diri dari jalan itu. Mahasiswa juga mulai meredakan emosinya dan tidak lagi memblokir jalan. Jalan Raya Cikini yang sempat diblokir massa kini sudah dibuka kembali.

Akbar menemui massa HMI dengan berjalan kaki dari pertigaan Jalan Cikini Raya. Setelah tiba di lokasi, Akbar kemudian masuk ke Sekretariat HMI di Jalan Cilosari.

“Iya saya denger ada demo, dan katanya sempat ricuh. Mereka ini adalah adik-adk saya dulu,” kata Akbar yang merupakan mantan Ketua Umum PB HMI. Hingga pukul 21.00 WIB, Akbar Tandjung masih bertemu massa HMI.

Walikota Jakpus Susul Akbar ke Markas HMI

Upaya untuk meredam emosi massa HMI di Jalan Cikini Jakarta Pusat terus dilakukan. Walikota Jakpus Sylviana Murni menyusul mantan Ketua Umum PB HMI Akbar Tandjung ke markas HMI.

Pantuan detikcom, Jumat (5/3) Sylviana yang ditemani ajudannya tiba sekitar pukul 21.20 WIB. Tanpa komentar, Sylviana langsung masuk ke Sekretariat HMI di Jalan Cilosari.

Sementara itu, konsentrasi massa HMI kini tidak lagi berada di pinggiran Jalan Cikini. Semua massa HMI sudah masuk ke dalam dan memblokade jalan dengan portal.

Setiap orang yang hendak masuk ke Jl Cilosari diperiksa dengan ketat oleh anggota HMI. Sedangkan polisi masih terus berjaga-jaga di luar. Hingga pukul 21.40 WIB, pertemuan Akbar, Sylviana dan pengurus HMI masih terus berlangsung.

Sebelumnya sempat terjadi ketegangan antara massa HMI yang memblokir Jalan Cikini dengan aparat kepolisian. Mereka sempat saling dorong, bahkan sempat saling pukul.

Pasca Rusuh, Sekretariat HMI Jakarta Lengang

Pasca bentrokan antara massa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan kepolisian pada Jumat (5/3) malam, sekretariat organisasi kemahasiswaan tersebut di Jl Cilosari, Menteng, Jakarta Pusat, tampak kosong. Tidak ada aktivitas yang mencolok di tempat tersebut.

Pantuan detikcom, Sabtu (6/3), bangunan yang bercat hijau putih tersebut sepi. Tidak terlihat kegiatan yang berasal dari dalam gedung. Hanya ada sekitar 10 orang mahasiswa HMI yang sedang beristirahat. Tampaknya mereka masih kelelahan setelah bentrokan semalam.

Di depan gerbang sekertariat HMI Jakarta tersebut dipasang sebuah spanduk berwarna putih. Spanduk berukuran sekitar 2 X 2 meter itu bertuliskan “Kawasan Anti Polisi”. Arus lalu lintas di sekitar kantor sekretariat PB HMI tampak normal. Toko-toko juga sudah beraktivitas seperti biasa.

Ditemui di tempat tersebut, Koordinator aksi HMI Jakarta Agus Harta, mengatakan pukul 13.00 WIB nanti pihaknya akan menggelar jumpa pers. Dalam kesempatan itu mereka akan menjelaskan berbagai hal terkait peristiwa semalam dan tuntutan HMI.

“Kemungkinan kita juga akan kembali turun ke jalan,” ujar Agus Harta.

Agus menambahkan, HMI tetap mendesak kepolisian untuk minta maaf atas pengrusakan sekretariat HMI di Makassar. “Kami Juga meminta pencopotan Kapolda Sulselbar kepada Kapolri,” kata Agus.(detikcom/d)
Read more ...

HMI Fispol Kecam Tindakan Malaysia

Minggu, 17 Januari 2010

Rabu, 2 September 2009 | 14:43 WIB

Yogyakarta, Kompas - Belasan mahasiswa anggota Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Selasa (1/9), berunjuk rasa menolak keberadaan mahasiswa asal Malaysia. Mereka juga mengecam tindakan Malaysia yang telah mengklaim budaya, wilayah Indonesia, dan melecehkan lagu Indonesia Raya.
Hal ini merupakan aksi kecaman kedua terhadap negara jiran itu dalam tiga hari terakhir di Yogyakarta. Sebelumnya, hari Minggu (30/8), sekitar 100 mahasiswa asal Bali menampilkan tari pendet di perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta. Aksi itu sebagai wujud penolakan klaim Malaysia terhadap tari pendet.

Unjuk rasa dimulai dari Fisipol dilanjutkan berjalan kaki ke Bundaran dan berakhir di pintu masuk Fakultas Kedokteran. Mereka tidak hanya berorasi, tapi juga melakukan aksi teatrikal. Sejumlah poster bernada kecaman, seperti Usir Mahasiswa Malaysia dari Kampus UGM, UGM Tolak Mahasiswa Malingsia, dan Selamatkan Budaya Bangsa mereka bentangkan.
Humas Aksi Yuri Ashari mengemukakan, saat ini ada sekitar 80 mahasiswa asal Malaysia yang belajar di UGM. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 orang di antaranya menuntut ilmu di Fakultas Kedokteran. "Ironisnya, mereka yang dikirim untuk belajar di UGM adalah para mahasiswa yang notabene tidak lolos kualifikasi di negeri asalnya. Kualitas mereka rendah," ujarnya.
Menurut Yuri, tidak ada gunanya mengajarkan pengetahuan kepada para mahasiswa asal Malaysia karena suatu saat nanti mereka akan membalas dengan perlakuan tidak menyenangkan. Padahal, biaya yang dikeluarkan kampus untuk keperluan akademis para mahasiswa itu cukup besar.
Padahal, lanjutnya, di satu pihak UGM telah dianggap sebagai simbol kebesaran intelektualitas bangsa Indonesia. Kampus ini melahirkan pemikir besar sesuai bidang masing-masing.
"Karena itu, tindakan konkret yang harus kita lakukan adalah memulangkan mahasiswa asal Malaysia. Apa gunanya kita mencerdaskan mereka yang bakal mencuri budaya negeri ini," kata Angga, anggota HMI lainnya. HMI Komisariat Fisipol sendiri membuka ruang kepada para mahasiswa asal Malaysia untuk mendiskusikan masalah ini. (WER)
Read more ...

Mahasiswa UGM Tolak Mahasiswa Malaysia

Minggu, 17 Januari 2010
Selasa, 01/09/2009 13:52 WIB
Bagus Kurniawan - detikNews

Yogyakarta - Puluhan anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar demo menolak mahasiswa Malaysia. Mereka meminta UGM tidak lagi menerima mahasiswa asal Malaysia.

Aksi itu diawali dari kampus Fisipol di Jl Justisia dilanjutkan berkeliling menuju kampus blok kesehatan (eksakta) tempat para mahasiswa asal Malaysia kuliah.

Namun saat menuju Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) untuk berdialog dengan mahasiswa asal Malaysia, pihak Satuan Keamanan Kampus (SKK) UGM tidak memperbolehkan pendemo masuk. Pintu gerbang utama FK UGM langsung ditutup rapat oleh SKK.

SKK beralasan aksi itu akan mengganggu perkuliahan. Karena tidak boleh masuk masa kemudian melanjutkan aksinya berkeliling kampus.

Dalam aksi itu juga diwarnai dengan pembakaran replika bendera Malaysia. Mereka juga meneriakkan yel-yel anti Malaysia dan ganyang Malaysia.

"Kami tidak akan melakukan sweeping terhadap mereka. Kami ingin ada dialog dengan mahasiswa UGM asal Malaysia,” kata Yuri Ashari di sela-sela aksi.

Yuri mengatakan pihaknya juga tidak akan mengusir atau men-sweeping mahasiswa asal Malaysia yang kebanyakan kuliah di FK UGM. Namun pihaknya ingin agar Rektorat UGM tidak menerima lagi mahasiswa asal Malaysia.

"Kami hanya ingin dialog dengan mereka mengenai berbagai masalah yang muncul akhir-akhir ini. Namun belum ada tanggapan dan tidak boleh masuk oleh satpam," katanya.

(bgs/djo)
Read more ...

HMI Fisipol Tolak Mahasiswa Asal Malaysia, Masuk UGM

Minggu, 17 Januari 2010
Sahabat MQ/ belasan mahasiswa yang tergabung dalam himpunan mahasiswa islam HMI komisariat fisipol UGM/ pagi tadi menggelar aksi protes atas ulah malaysia terhadap indonesia selama ini// Akhirnya/ HMI menuntut agar civitas akademika UGM mengusir/ dan tidak lagi menerima mahasiswa asal malaysia untuk masuk UGM// Koordianator aksi protes -Yuri azhari- menyatakan/ pihaknya akan berupaya/ untuk melakukan dialog pada mahasiswa UGM asal malaysia/ untuk menyampaikan tuntutan/ agar perwakilan Malaysia meminta maaf/ karena telah menginjak–injak harga diri bangsa dan tanah air indonesia// Reporter MQ FM -Tria Haidar- melaporkan/ pada kesempatan tersebut para mahasiswa juga melakukan pembakaran simbol bendera Malaysia/ dan aksi teatrikal yang menggambarkan pelecahan malaysia terhadap Indonesia// Selain itu/ HMI juga melakukan orasi dan membacakan pernyataan sikap/ di depan fakultas kedokteran UGM/ yang terdapat sekitar 50 mahasiswa asal Malaysia/// Tria Haidar

http://mqradio.com/?lang=ina&page=front&action=view&item=details&i=105&title=HMI%20Fisipol%20Tolak%20Mahasiswa%20Asal%20Malaysia,%20Masuk%20UGM

Read more ...

Mahasiswa UGM Tolak Mahasiswa Asal Malaysia

Minggu, 17 Januari 2010
Selasa, 01 September 2009 | 12:07 WIB

TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Belasan anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fisipol Universitas Gadjah Mada menggelar aksi unjuk rasa keliling kampus, Selasa (1/9). Mereka meminta kepada rektorat UGM untuk tidak lagi menerima mahasiswa asal Malaysia.

demoTidak hanya meminta tidak lagi menerima mahasiswa asal Malaysia, para pengunjuk rasa juga meminta agar mahasiswa asal Malaysia diusir dari kampus UGM. Aksi yang dimulai sekitar pukul 10.00 dari kampus Fisipol UGM ini juga diwarnai dengan pembakaran replika bendera Malaysia.

Sempat beredar isu para pengunjuk rasa akan melakukan aksi sweeping terhadap mahasiswa UGM asal Malaysia. Namun hal itu dibantah oleh Yuri Ashari, koordinator aksi. “Kami tidak akan melakukan sweeping. Kami justru akan melakukan dialog dengan mahasiswa UGM asal Malaysia,” katanya di sela-sela aksi.

Dialog dengan mahasiswa UGM asal Malaysia direncanakan berlangsung di kampus Fakultas Kedokteran. Di fakultas inilah sebagian besar mahasiswa asal Malaysia sedang menuntut ilmu. Namun, mereka gagal melakukan dialog karena pintu gerbang Fakultas Kedokteran buru-buru ditutup oleh satpam. Para demonstran akhirnya hanya menggelar aksi dan berorasi di luar pintu gerbang, sebelum mengakhiri aksinya.

HERU CN

Read more ...

Penolakan Terhadap Mahasiswa Malaysia Di Kampus UGM

Minggu, 17 Januari 2010
Senin, 28 September 2009 16:57

Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) Komisariat Fisipol UGM, menggelar aksi unjuk rasa di Bunderan Kampus UGM, Yogyakarta, siang tadi.

Dalam aksinya kali ini, diserukan penolakan terhadap keberadaan Mahasiswa Malaysia yang di Kampus UGM. Aksi ini muncul karena latar belakang tindakan negara Malaysia, yang dinilai telah menginjak-injak martabat bangsa Indonesia.

Aksi diawali dari kampus Fisipol UGM dengan pembubuhan tanda tangan mahasiswa, kemudian dilanjutkan dengan melakukan long march sampai Bunderan UGM untuk melakukan pembakaran bendera Malaysia.

Tidak sampai disitu saja, massa juga bergerak ke Kakultas Kedokteran Umum UGM, dimana di fakultas ini terdapat mahasiswa yang berkebangsaan Malaysia. Pengunjuk rasa tersebut juga meminta perwakilan mahasiswa Malaysia untuk meminta maaf atas tindakan bangsanya.

Dikatakan Yuri Ashari, koordinator aksi, pihaknya menuntut mahasiswa Malaysia meminta maaf, atas tindakan bangsanya yang telah menginjak-injak Indonesia. Hal paling konkrit yang bisa kita lakukan adalah memulangkan mahasiswa Malaysia dari kampus UGM dan menolaknya masuk UGM.

Selain itu, mereka juga menyerukan kepada pemerintah Indonesia agar tak menjadikan alasan tetangga dekat untuk bisa membiarkan bangsa lain menjatuhkan martabat Indonesia.

http://rripro2jogja.com/id/insert/news-update/89-penolakan-terhadap-mahasiswa-malaysia-di-kampus-ugm.html
Read more ...

Mahasiswa Fisipol UGM Bakar Bendera Malaysia

Minggu, 17 Januari 2010
Selasa, 1 September 2009, 12:08 WIB

Joko Widiyarso - GudegNet


Kesal dengan sejumlah ulah yang dilakukan Malaysia, puluhan mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fisopol UGM, Selasa (1/9) menggelar unjuk rasa dengan membakar bendera Malaysia di Bunderan UGM Yogyakarta.

Selain aksi pembakaran bendera Malaysia, massa yang sebelumnya telah melakukan aksi di kampus mereka di Fakultas Fisipol UGM ini mengecam keras perilaku Malaysia yang terlalu sering mengklaim apa yang dipunyai Indonesia.

"Lagu kebangsaan saja nyontek. Belum lagi batik, reog Ponorogo, dan terakhir tari pendet asli Bali dicuri pula," teriak orator aksi, Angga.

Terkait dengan ulah tak menyenangkan Malaysia, massa bahkan menuntut pihak kampus UGM untuk tidak lagi menerima mahasiswa asal Malaysia untuk belajar di kampus mereka.

"Kami menuntuk agar kampus tidak lagi menerima mahasiswa asal Malaysia. Kalau perlu, pulangkan saja mereka ke kampung halamannya," tegas koordinator aksi Yuri Ashari.

Melalui aksi ini, Yuri mengharapkan agar pemerintah Malaysia turut por aktif dalam menyelesaikan segala pelecehan yang terjadi oleh warga negara mereka, bukan hanya membiarkannya saja.

"Pemerintah Malaysia harusnya minta maaf soal terjadinya pelecehan lagu kebangsaan 'Indonesia Raya' yang baru-baru saja terjadi di sebuah web," tuntunya.

Selain itu, massa juga menuntut agar pihak pemerintah Indonesia agar lebih berani dan tegas terkait dengan penistaan yang sering dilakukan oleh Malaysia. Menurut mereka, harga diri bangsa harus dipertahankan.

Dalam aksi tersebut, massa membawa sejumlah poster yang bertuliskan 'Malaysia Truly Malingya Asia', 'UGM Stop Stop Menerima Mahasiswa Asing', 'Waspada Klaim Malingsia', 'Ayo Selamatkan Budaya Bangsa', 'Tari Pendet Jelas dari Bali' 'Malaysia Plagiat Budaya', dll.

Usai menggelar aksi di Fakultas Fisipol dan Bunderan UGM, massa melanjutkan aksi ke Fakultas Kedokteran Umum UGM guna meminta perwakilan mahasiswa Malaysia untuk meminta maaf atas tindakan bangsanya yang sering melecehkan bangsa Indonesia.
Read more ...

Mahasiswa UGM: "Usir Mahasiswa Asal Malaysia!"

Minggu, 17 Januari 2010
Selasa, 01 September 2009 | 12:08 WIB

TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Belasan anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fisipol UGM menggelar aksi unjuk rasa keliling kampus, Selasa (1/9). Selain menolak mahasiswa asal Malaysia, mereka meminta Rektorat mengusir mahasiswa Malaysia.

Aksi yang dimulai sekitar pukul 10.00 dari kampus Fisipol UGM ini juga diwarnai dengan pembakaran replika bendera Malaysia.

Sempat beredar isu para pengunjuk rasa akan melakukan aksi sweeping terhadap mahasiswa UGM asal Malaysia. Namun hal itu dibantah oleh Yuri Ashari, koordinator aksi. “Kami tidak akan melakukan sweeping. Kami justru akan melakukan dialog dengan mahasiswa UGM asal Malaysia,” katanya.

Dialog dengan mahasiswa UGM asal Malaysia direncanakan berlangsung di kampus Fakultas Kedokteran. Di fakultas inilah sebagian besar mahasiswa asal Malaysia sedang menuntut ilmu. Namun, mereka gagal melakukan dialog karena pintu gerbang Fakultas Kedokteran buru-buru ditutup oleh satpam. Para demonstran akhirnya hanya menggela aksi dan berorasi di luar pintu gerbang, sebelum mengakhiri aksinya.

HERU CN

Read more ...

Gelar Unjuk Rasa Keliling Kampus, Mahasiswa UGM Tolak Mahasiswa Malaysia

Minggu, 17 Januari 2010
SOFAN KURNIAWAN/ BERNAS JOGJA
TOLAK MAHASISWA MALAYSIA-- Mahasiswa UGM saat menggelar unjuk rasa menolak mahasiswa asal Malaysia di kampus setempat, bundaran UGM dengan pembakaran replika bendera Malaysia.

Rabu, 2 Sep 2009 10:19:09

JOGJA ‑‑ Belasan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fisipol UGM menggelar unjuk rasa menolak mahasiswa asal Malaysia di kampus setempat, Selasa (1/9). Aksi diawali keliling kampus dan berakhir di bundaran UGM dengan pembakaran replika bendera Malaysia.
Dalam tuntutannya, mahasiswa menuntut pihak rektorat UGM untuk tidak lagi menerima mahasiswa asal negeri jiran itu. Mereka juga meminta mahasiswa Malaysia diusir dari UGM.
Selain pada rektorat, mahasiswa juga berupaya melakukan dialog dengan mahasiswa asal Malaysia di fakultas kedokteran UGM. Sebab di fakutlas itulah banyak mahasiswa Malaysia yang tengah melanjutkan pendidikan kesarjanaan maupun magister mereka.
Namun dialog bersama itu gagal dilakukan. Pasalnya, ketika mahasiswa sampai di FK UGM, pintu gerbang fakultas itu langsung ditutup oleh Satuan Keamanan Kampus (SKK). "Kami menuntut mahasiswa Malaysia meminta maaf atas tindakan bangsanya yang telah menginjak‑injak Indonesia," ujar koordinator aksi Yuri A di sela‑sela aksi.
Demonstran beranggapan, sia‑sia saja UGM mendidik calon pencuri budaya Indonesia. Mereka nantinya hanya akan semakin banyak memberikan kerugian bagi bangsa ini.
Hal ini ditunjukkan dengan makin banyaknya klaim yang dilakukan Malaysia terhadap kekayaan Indonesia. Sementara tidak ada tindakan tegas yang dilakukan pemerintah hingga saat ini. Karenanya UGM sebagai kampus kebangsaan harus mampu menunjukkan perannya. Kampus tersebut mestinya bisa membuat kebijakan untuk tidak lagi menerima mahasiswa asal Malaysia seperti yang dilakukan sejumlah kampus lainnya. "Rektor UGM seharusnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak menerima mahasiswa Malaysia di kampus UGM," ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Kantor Urusan Internasional UGM Rachmat Sriwijaya mengungkapkan, fakultas itu tetap melakukan kerjasama dengan Malaysia. Sebab belum ada aturan dari kampus untuk menolak mahasiswa asal Malaysia untuk berkuliah di kampus itu.
Selain itu, jumlah mahasiswa Malaysia yang berkuliah di FK UGM setiap tahunnya juga cukup banyak mencapai 70 orang. Mereka masuk lewat jalur seleksi internasional maupun jalur lainnya. "Jumlah mahasiswa asal Malaysia yang berkuliah di program internasional ini bahkan mendominasi dibandingkan dari negara lain," jelasnya. (ptu)
Read more ...

Demo warnai Hardiknas di Jogja

Minggu, 17 Januari 2010
Minggu, 03 Mei 2009 10:32:18
JOGJA:
Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Jogja, diwarnai dengan sejumlah kegiatan. Selain upacara bendera, aksi demo juga menyemarakkan Hardiknas, Sabtu (2/5).

Upacara bendera peringatan Hardiknas, salah satunya digelar di Lapangan Tamansiswa. Upacara diikuti oleh sekitar 400 siswa dari TK, SD, SMP, SMA, STM yang berada dibawah Yayasan Perguruan Tamansiswa dan mahasiswa dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), dan juga pengurus dari Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.

Upacara dipimpin Ketua II Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa Ki Prof Subronto Prodjoharjono yang menggantikan Tyasno Sudarto yang berhalangan hadir. Dalam sambutannya, dia mengatakan Hari Pendidikan Nasional diperingati bertepatan dengan kelahiran KI Hajar Dewantara (KHD), yang juga pendiri Perguruan Tamansiswa. Sehingga, dalam sistem pendidikan yang berjalan bisa merealisasikan konsep-konsep itu yakni konsep Tri Hayu dari KHD.

“Konsep tri hayu itu mencakup 3 hal yakni Hamemayu hayuning sariro, Hamemayu hayuning bongso, dan Hamemayu hayuning bawono, menjadi penting untuk membentuk karakter manusia,” ujarnya.

Hamemayu hayuning sariro memiliki makna membentuk kepribadian siswa yang cerdas, bermoral dan merdeka lahir batin. Lalu, Hamemayu hayuning bongso yakni rela berbakti demi bangsa dan negara. Ketiga, Hamemayu hayuning bawono bisa memelihara hubungan universal yang harmonis dengan alam dan bangsa di dunia.

“Ketiganya perlu diterapkan dalam kehidupan berbangsa, agar sistem pendidikan nasional berjalan sesuai dengan harapan warga masyarakat,” katanya

Setelah melakukan upacara bendera, juga dilakukan upacara ziarah di Pemakaman Wijaya Brata, Celeban, Umbulharjo. Dijelaskan Ki Bambang Widodo, ketua panitia acara ini diadakan setiap tahun, yang diawali dengan Hari Bakti Tamansiswa yang jatuh pada 26 April, yang bertepatan dengan wafatnya Ki Hajar Dewantara. Diisi dengan kegiatan kerja bakti, ziarah ke makam Wijaya Brata dan tahlilan.

“Upacara ziarah ini untuk menghormati para tokoh nasional yang pernah menjabat sebagai menteri pendidikan dan tokoh pendidikan Indonesia yang dimakamkan di sini,” kata Ketua Bidang kekeluargaan Yayasan Majelis Luhur Tamansiswa ini.

Sebagai inspektur upacara ziarah adalah Tri Harjun Ismaji, upacara diikuti oleh 7 peleton, yakni perwakilan dari Satpol PP, Dinas Pendidikan DIY, siswa-siswi dari Yayasan Tamansiswa, Korem, Korsik dan Korem 072 serta Korps Musik.

Demo
Peringatan Hardiknas juga diwarnai dengan aksi demo. Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aksi peduli pendidikan melakukan unjuk rasa menuntut dilakukannya reorientasi pendidikan nasional dan mewujudkan parlemen dan pemerintah peduli pendidikan, Sabtu (2/5).

Aksi yang digelar bertepatan dengan hari pendidikan nasional yang jatuh pada 2 Mei tiap tahunnya itu, diikuti oleh sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan organisasi lintas kampus dari sejumlah Universitas di DIY. Aksi diwarnai dengan berjalan kaki dari DPRD DIY menuju Titik Nol Kilometer di depan kantor Pos Jogja.

Dalam aksinya, sejumlah mahasiswa menolak pemberlakuan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan, menolak Ujian Akhir Nasional (UAN) dijadikan paramater tunggal kelulusan, dan menolak penelikungan anggaran 20% pendidikan dengan memasukkan unsur gaji guru ke dalamnya.

“Dalam UU BHP, ada 27 pasal bermasalah. UU itu harus dicabut. Kita juga sudah ditipu dengan anggaran pendidikan 20% yang memasukkan unsur gaji guru ke dalamnya,” seru Pidi Winata Presiden Mahasiswa BEM Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) saat menggelar aksi di gedung DPRD.

Pidi mengatakan, dengan pemberlakuan UU BHP, komersialisasi pendidikan tidak bisa dihindari. Akibatnya, biaya pendidikan akan semakin membengkak dan menimbulkan kesenjangan kelas antara masyarakat miskin dan kaya.

Menurut kajian dari BEM KM UGM, UU BHP bahkan merupakan proyek pesanan asing. Hal itu dibuktikan dengan adanya proyek World Bank yang merekomendasikan UU BHP disahkan sebelum 2010. “Ini jelas UU pesanan asing. Dampaknya sudah terasa di UGM yang dulu dikenal kampus rakyat, kini jadi kampus elit berduit,” kata Presiden BEM UGM Qadaruddin.

Oleh karenanya, aksi yang digelar tepat di Hari Pendidikan Nasional itu juga hendak menyuarakan kepada DPRD Provinsi DIY agar turut mendukung terciptanya parlemen peduli pendidikan. “Segala dampak adanya kebijakan tentang pendidikan, selalu melewati pintu parlemen. Lembaga ini diharapkan turut mengawal cita-cita nasional pendidikan bagi seluruh warga Indonesia,” ujarnya.

Sejumlah peserta unjuk rasa dari Himpunan Mahasiswa Islam (MHI) nampak menggelar aksi bertelanjang dada bertuliskan cabut “UU BHP”. Ihsan Ahmad Barokah HMI Komsat Fisipol Bulaksumur Sleman menuturkan, aksi itu sebagai bentuk simbolisasi penolakan UU BHP yang sudah menjadi jeritan hati nurani mahasiswa. (Theresia T. Andayani & Nugroho Nurcahyo)
Read more ...

Ratusan Mahasiswa Yogya Tolak UU BHP

Minggu, 17 Januari 2010
Aksi Hari Pendidikn Nasional 2 Mei 2009

Peringatan Hari Pendidikan Nasional, Sabtu (2/5) di Yogyakarta, diwarnai aksi penolakan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan oleh ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Mahasiswa menganggap UU BHP benar-benar telah menyebabkan diskriminasi bagi anak bangsa.

Para mahasiswa berunjuk rasa di depan Gedung Agung dan perempatan Kantor Pos Besar Yogya. Mereka terbagi dalam empat kelompok kecil, yakni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Ar Fakhruddin Kota Yogyakarta, Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa (KBM UST), Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), dan Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fisipol Cabang Bulak Sumur.

Melki, Koordinator KBM Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa, mengatakan, pendidikan yang berorientasi bisnis telah mencederai undang-undang yang mengamanatkan pendidikan adil bagi seluruh rakyat. "Fenomena kampus berkualitas dan meng-integrasional, yang marak dewasa ini, sejatinya omong kosong. Secara tidak langsung, sistem pendidikan yang ada menghambat laju kecerdasan generasi muda," ujarnya.

Menurut KBM UST, pendidikan berkualitas hanya sebuah slogan untuk melegalkan biaya yang mahal. Banyaknya masyarakat yang ingin sekolah di luar negeri, sebenarnya menjadi bukti bahwa pendidikan di dalam negeri memiliki mutu yang rendah.

Koordinator Umum BEM SI Pidi Winata mengatakan, ada 27 pasal bermasalah dalam UU BHP yang disahkan 17 Desember 2008 lalu itu. Dipastikan, komersialisasi pendidikan takkan terhindarkan apabila keberadaan UU tersebut terus dilanjutkan.

"Pendidikan dengan biaya tinggi pun telah menjadi keniscayaan. Karena itu tolak UU BHP. UU tersebut menyebabkan diskriminasi bagi masyarakat miskin untuk menikmati pendidikan. Otonomi perguruan tinggi dinilai gagal," ujarnya.

Pendapat senada dilontarkan Deriana, Koordinator IMM Ar Fakruddin. Menurut Fakhruddin, dunia pendidikan tidak lagi mampu membangun mental dan moral bangsa. Ironisnya lagi, program pendidikan gratis dan anggaran 20 persen untuk pendidikan, justru menjadi alat politik untuk menggalang simpati masyarakat.

Realisasi pendidikan gratis pun mengalami berbagai ketimpangan. Masih ada sekolah yang diperbolehkan menerima sumbangan dari berbagai pihak, dengan embel-embel bukan pungutan liar. "Pemerintah sepertinya terjebak dalam logika bahasa tanpa memilikirkan realitas yang ada di masyarakat," katanya.

Laporan wartawan KOMPAS Defri Werdiono
Read more ...

Aksi Hardiknas, Mahasiswa Tolak UU BHP

Minggu, 17 Januari 2010
YOGYA (KR) - Saat di halaman Balairung digelar ucapara memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diikuti sivitas akademika UGM, Sabtu (2/5), di Bunderan UGM ratusan mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menggelar aksi turun ke jalan dari UGM ke Kantor Pos Besar. Mereka menolak Undang-Undang (UU) Badan Hukum Pendidikan (BHP).

Aksi mahasiswa kali ini mengangkat tema ‘Re-Orientasi Pendidikan Nasional serta Wujudkan Parlemen dan Pemerintah Peduli Pendidikan’. Penolakan terhadap UU BHP juga dilakukan KBM-Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Yogya, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fisipol UGM, maupun Komite Rakyat Bersatu (KRB).
Seluruh aksi yang diikuti lebih dari 200 orang berbeda elemen itu berangkat dari tempat berbeda, tetapi seluruhnya diakhiri di simpang empat titik nol kilometer Kota Yogya. Yang menarik, meskipun ada tuntutan yang sama, elemen-elemen itu ada yang tidak mau bergabung sama lain. Bila satu elemen meninggalkan tempat, giliran elemen lain menggantikannya.
Selain meneriakkan tuntutan-tuntutan termasuk keinginan dicabutnya UU BHP, memang ada yang tampil unik. HMI Komisariat Fisipol UGM misalnya dengan beberapa orang tanpa baju masing-masing bertuliskan satu huruf yang membentuk tulisan CABUT BHP!. Mereka berjalan kaki menuju simpang empat titik nol kilometer.
Sementara IMM Kota Yogya menampilkan seorang dengan wajah putih melakukan gerakan ala pantomim. BEM SI menolak UU BHP dan mendesak agar sistem penentu kelulusan pendidikan yang menjadikan ujian nasional sebagai salah satu parameternya dievaluasi. Menuntut direalisasikan pendidikan terjangkau bagi rakyat sebagai amanat Tugu Rakyat.
“Kami mahasiswa yang bergabung dalam BEM SI menolak tegas penelikungan anggaran 20 persen pendidikan dan menolak gaji dosen dimasukkan dalam anggaran 20 persen itu artinya sama saja bohong dan omong kosong,” ujar Koordinator Bidang Pendidikan BEM Seluruh Indonesia Pidi Winata yang juga Presiden Mahasiswa BEM Rema UNY.
Selain menggelar berbagai poster, spanduk para aktivis yang mengenakan jaket almamater masing-masing juga melakukan orasi secara bergantian. Pada intinya para mahasiswa ini dengan tegas menolak UU BHP yang disahkan 17 Desember 2008 dinilai oleh BEM SI telah menuai kontroversi baru. Ada 27 pasal bermasalah, ini merupakan hasil dari konferensi BEM SI di Yogyakarta.
Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa (MLPT) Tyasno Sudarto dalam sambutan Hardiknas di lapangan Tempel-Wirogunan mengatakan, seiring dengan kemajuan zaman telah tumbuh perguruan swasta dan sekolah negeri. Kebijakan pemerintah yang semula berkiblat kepada konsep Ki Hadjar Dewantara (KHD), namun seiring kemajuan pendidikan global aplikasinya banyak bergeser dari ajaran KHD.
Pendidikan sekolah sudah mengarah kepada pendidikan intelek dan kurang memberi bobot kepada pendidikan watak putra bangsa. “Kompetisinya antarindividu siswa, antarsekolah membawa siswa dan pamong secara maksimal memberi jam pelajaran sampai sore, bahkan malam hari,” ucapnya di depan para siswa dan pamong Tamansiswa.
Dikatakan Tyasno, KHD memberikan pengertian, pendidikan tidak melulu intelektual tidak bermanfaat bagi bangsa karena akan menjauhkan kaum terpelajar dari rakyat. “Tamansiswa wajib menyebarluaskan pendidikan kepada segenap masyarakat secara merata karena itu sangat bermanfaat bagi kemajuan bangsa,” tandasnya. (Asp/Jay/Ewp/Her)

Read more ...