Joko Widiyarso - GudegNet
Selain aksi pembakaran bendera Malaysia, massa yang sebelumnya telah melakukan aksi di kampus mereka di Fakultas Fisipol UGM ini mengecam keras perilaku Malaysia yang terlalu sering mengklaim apa yang dipunyai Indonesia.
"Lagu kebangsaan saja nyontek. Belum lagi batik, reog Ponorogo, dan terakhir tari pendet asli Bali dicuri pula," teriak orator aksi, Angga.
Terkait dengan ulah tak menyenangkan Malaysia, massa bahkan menuntut pihak kampus UGM untuk tidak lagi menerima mahasiswa asal Malaysia untuk belajar di kampus mereka.
"Kami menuntuk agar kampus tidak lagi menerima mahasiswa asal Malaysia. Kalau perlu, pulangkan saja mereka ke kampung halamannya," tegas koordinator aksi Yuri Ashari.
Melalui aksi ini, Yuri mengharapkan agar pemerintah Malaysia turut por aktif dalam menyelesaikan segala pelecehan yang terjadi oleh warga negara mereka, bukan hanya membiarkannya saja.
"Pemerintah Malaysia harusnya minta maaf soal terjadinya pelecehan lagu kebangsaan 'Indonesia Raya' yang baru-baru saja terjadi di sebuah web," tuntunya.
Selain itu, massa juga menuntut agar pihak pemerintah Indonesia agar lebih berani dan tegas terkait dengan penistaan yang sering dilakukan oleh Malaysia. Menurut mereka, harga diri bangsa harus dipertahankan.
Dalam aksi tersebut, massa membawa sejumlah poster yang bertuliskan 'Malaysia Truly Malingya Asia', 'UGM Stop Stop Menerima Mahasiswa Asing', 'Waspada Klaim Malingsia', 'Ayo Selamatkan Budaya Bangsa', 'Tari Pendet Jelas dari Bali' 'Malaysia Plagiat Budaya', dll.
Usai menggelar aksi di Fakultas Fisipol dan Bunderan UGM, massa melanjutkan aksi ke Fakultas Kedokteran Umum UGM guna meminta perwakilan mahasiswa Malaysia untuk meminta maaf atas tindakan bangsanya yang sering melecehkan bangsa Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar