Minggu, 03 Mei 2009 10:32:18 JOGJA: Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Jogja, diwarnai dengan sejumlah kegiatan. Selain upacara bendera, aksi demo juga menyemarakkan Hardiknas, Sabtu (2/5).
Upacara bendera peringatan Hardiknas, salah satunya digelar di Lapangan Tamansiswa. Upacara diikuti oleh sekitar 400 siswa dari TK, SD, SMP, SMA, STM yang berada dibawah Yayasan Perguruan Tamansiswa dan mahasiswa dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), dan juga pengurus dari Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.
Upacara dipimpin Ketua II Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa Ki Prof Subronto Prodjoharjono yang menggantikan Tyasno Sudarto yang berhalangan hadir. Dalam sambutannya, dia mengatakan Hari Pendidikan Nasional diperingati bertepatan dengan kelahiran KI Hajar Dewantara (KHD), yang juga pendiri Perguruan Tamansiswa. Sehingga, dalam sistem pendidikan yang berjalan bisa merealisasikan konsep-konsep itu yakni konsep Tri Hayu dari KHD.
“Konsep tri hayu itu mencakup 3 hal yakni Hamemayu hayuning sariro, Hamemayu hayuning bongso, dan Hamemayu hayuning bawono, menjadi penting untuk membentuk karakter manusia,” ujarnya.
Hamemayu hayuning sariro memiliki makna membentuk kepribadian siswa yang cerdas, bermoral dan merdeka lahir batin. Lalu, Hamemayu hayuning bongso yakni rela berbakti demi bangsa dan negara. Ketiga, Hamemayu hayuning bawono bisa memelihara hubungan universal yang harmonis dengan alam dan bangsa di dunia.
“Ketiganya perlu diterapkan dalam kehidupan berbangsa, agar sistem pendidikan nasional berjalan sesuai dengan harapan warga masyarakat,” katanya
Setelah melakukan upacara bendera, juga dilakukan upacara ziarah di Pemakaman Wijaya Brata, Celeban, Umbulharjo. Dijelaskan Ki Bambang Widodo, ketua panitia acara ini diadakan setiap tahun, yang diawali dengan Hari Bakti Tamansiswa yang jatuh pada 26 April, yang bertepatan dengan wafatnya Ki Hajar Dewantara. Diisi dengan kegiatan kerja bakti, ziarah ke makam Wijaya Brata dan tahlilan.
“Upacara ziarah ini untuk menghormati para tokoh nasional yang pernah menjabat sebagai menteri pendidikan dan tokoh pendidikan Indonesia yang dimakamkan di sini,” kata Ketua Bidang kekeluargaan Yayasan Majelis Luhur Tamansiswa ini.
Sebagai inspektur upacara ziarah adalah Tri Harjun Ismaji, upacara diikuti oleh 7 peleton, yakni perwakilan dari Satpol PP, Dinas Pendidikan DIY, siswa-siswi dari Yayasan Tamansiswa, Korem, Korsik dan Korem 072 serta Korps Musik.
Demo
Peringatan Hardiknas juga diwarnai dengan aksi demo. Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aksi peduli pendidikan melakukan unjuk rasa menuntut dilakukannya reorientasi pendidikan nasional dan mewujudkan parlemen dan pemerintah peduli pendidikan, Sabtu (2/5).
Aksi yang digelar bertepatan dengan hari pendidikan nasional yang jatuh pada 2 Mei tiap tahunnya itu, diikuti oleh sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan organisasi lintas kampus dari sejumlah Universitas di DIY. Aksi diwarnai dengan berjalan kaki dari DPRD DIY menuju Titik Nol Kilometer di depan kantor Pos Jogja.
Dalam aksinya, sejumlah mahasiswa menolak pemberlakuan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan, menolak Ujian Akhir Nasional (UAN) dijadikan paramater tunggal kelulusan, dan menolak penelikungan anggaran 20% pendidikan dengan memasukkan unsur gaji guru ke dalamnya.
“Dalam UU BHP, ada 27 pasal bermasalah. UU itu harus dicabut. Kita juga sudah ditipu dengan anggaran pendidikan 20% yang memasukkan unsur gaji guru ke dalamnya,” seru Pidi Winata Presiden Mahasiswa BEM Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) saat menggelar aksi di gedung DPRD.
Pidi mengatakan, dengan pemberlakuan UU BHP, komersialisasi pendidikan tidak bisa dihindari. Akibatnya, biaya pendidikan akan semakin membengkak dan menimbulkan kesenjangan kelas antara masyarakat miskin dan kaya.
Menurut kajian dari BEM KM UGM, UU BHP bahkan merupakan proyek pesanan asing. Hal itu dibuktikan dengan adanya proyek World Bank yang merekomendasikan UU BHP disahkan sebelum 2010. “Ini jelas UU pesanan asing. Dampaknya sudah terasa di UGM yang dulu dikenal kampus rakyat, kini jadi kampus elit berduit,” kata Presiden BEM UGM Qadaruddin.
Oleh karenanya, aksi yang digelar tepat di Hari Pendidikan Nasional itu juga hendak menyuarakan kepada DPRD Provinsi DIY agar turut mendukung terciptanya parlemen peduli pendidikan. “Segala dampak adanya kebijakan tentang pendidikan, selalu melewati pintu parlemen. Lembaga ini diharapkan turut mengawal cita-cita nasional pendidikan bagi seluruh warga Indonesia,” ujarnya.
Sejumlah peserta unjuk rasa dari Himpunan Mahasiswa Islam (MHI) nampak menggelar aksi bertelanjang dada bertuliskan cabut “UU BHP”. Ihsan Ahmad Barokah HMI Komsat Fisipol Bulaksumur Sleman menuturkan, aksi itu sebagai bentuk simbolisasi penolakan UU BHP yang sudah menjadi jeritan hati nurani mahasiswa. (Theresia T. Andayani & Nugroho Nurcahyo)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar